Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

My Wonderful Dad

Posted on: Desember 5, 2012


Saat usiaku 3,5 tahun ibuku bilang kalo aku sudah bisa berpuasa meski setengah hari, lalu saat akuberusia 4 tahun. ibuku bilang aku sudah sanggup berpuasa sampai satu hari penuh di bulan Ramadhan meski hanya beberapa hari pun. Yang Paling ku ingat adalah saat aku duduk d bangku taman kanak-kanak (TK), saat itu usiaku kira2 5 tahun, mulai dari hari pertama di Bulan Ramadhan, ayah mensupport aku secara penuh untuk berpuasa, 3 hari pertama aku sanggup berpuasa penuh, lalu hari2 berikutnya, aku mulai kehabisan daya dan upaya untuk menaha puasa, saat siang hari aku mulai merasakan kelelahan dan kebosanan yang teramat sangat, tapi ayah tidak setengah2 mensupportku untuk berpuasa, dengan motivasi kata2 yg luar biasa darinya aku berhasil bertahan. Lalu di hari2 berikutnya, ayah masih setia mensupport aku agar berpuasa penuh, selalu saja ayah mengajakku pergi kemana2, salah satu cara ayah menghilangkan pikiran untuk membatalkan puasa adalah dengan mengajakku jalan-jalan keliling Kota. Maka tak heran jika sekarang aku tau seluk beluk Kota ini, bahkan sampai ke jalan2 kecil, jalan buntu, jalan potong, jalan tikus, dll sekalipun aku benar2 tahu, berkat ayah.

Memang benar, cara ayah untuk mensupport aku puasa penuh memang berbeda dari org tua lainnya, suatu ketika aku pernah bertanya, “Ayah, kenapa tak memberiku uang jajan atas usahaku puasa penuh hari ini, teman-temanku semuanya diberi uang oleh orang tua mereka karena berpuasa penuh.” Lalu dengan penuh pengertian ayahku bilang, “Allah tidak suka orang beribadah padanya karena uang.”.. simple, dan saat itu usiaku 5 tahun, dan aku mengerti.

Yang ku ingat saat itu, selama bulan Ramadhan, di saat anak2 seusiaku membatalkan puasa pada siang hari, aku sibuk berboncengan di vespa bersama ayah dan adikku. Keliling kota, naik kapal nelayan, naik sampan di sungai, lewat jembatan gantung, ke pantai, mandi-mandi di sungai, naik kuda, baca baca majalah bobo, dan masih banyak kegiatan lainnya yang ku lakukan bersama ayah dan adikku. Dan saat itu, saat usiaku 5 tahun, untuk pertama kalinya aku Puasa Full selama Bulan Ramadhan tanpa ada bolong-bolong. Terimakasih ayah.

Tahun-tahun berikutnya, aku, adikku, dan ayah masih sering melakukan rutinitas jalan jalan dan berpetualangan di Bulan Ramadhan, semuanya semata-mata dilakukan ayahku agar kami bisa bertahan untuk menuntaskan puasa, dan memang benar, karena ayah selalu membuatku melakukan banyak hal dan banyak kegiatan, aku lupa bahwa aku sedang berpuasa. hhehhe

Lalu, tibalah saat adikku berusia 5 tahun, ayah masih setia dengan rutinitasnya jika Ramadhan tiba, sayangnya, adikku sempat 2x membatalkan puasanya kala itu, tampak kekecewaan pada ayah saat adikku membatalkan puasanya. Tapi itulah ayahku, sedikitpun dia tak pernah membanding2kan anaknya, dia tak pernah mau membanding antara aku dan adikku. Dan pada akhirnya, adikku untuk pertama kalinya puasa full tanpa bolong-bolong di saat usia 6 tahun.

Tahun silih berganti, perlahan rutinitas jalan jalan saat Bulan Ramadhan mulai berkurang, aku tak pernah bertanya kenapa pada ayah, tapi ayahku bilang, “Anak ayah sudah besar. Pasti sudah tau dosanya kalau membatalkan puasa.” .. dan saat itu usiaku 10 tahun dan adikku 7 tahun. Dan kami mengerti.

Sayangnya, adikku yang paling bungsu tak pernah merasakan kegiatan yang dilakukan ayah padaku dan dedek. Karena memang si bungsu itu sejak umur 4,5 tahun tinggal dan hidup bersama tanteku yang tak memiliki anak. Tapi meski begitu, saat adikku pulang ke rumah di Bulan Ramadhan kala itu, ayah selalu membangunkannya untuk ikut sahur. Dan yang ku tahu, adikku baru mulai berpuasa full tanpa bolong2 pada usia 8 tahun.

Di antara aku, dan adik2ku, saat masih kecil, aku lah yang paling sering kena marah, karena memang saat kecil aku adalah anak yang nakal, dan sedikit pembangkang, karena saat masih kecil aku merasa ayah lebih sayang pada adikku dibandingkan denganku karena adikku itu laki-laki. Mungkin karena hal itu saat kecil aku sering keluyuran dan bersepeda kemana2 serta bermain dengan anak2 cowok. Tak lupa tentunya aku sering mengajak adikku pergi bermain bersama. Tapi, saat beranjak dewasa aku baru sadar dan berpikir, bahwa sebenarnya ayah sangat sayang padaku, bahkan mungkin aku anak kesayangannya. Karena sayangnya ayah padaku makanya aku sering kena marah saat kecil, karena beliau overprotective menjagaku. Dulu, ayah selalu melarangku pergi kemana2, pergi2 main, rutinitasku benar2 sekolah dan rumah, tapi untuk bermain di lingkungan sekitar rumah ayah tak pernah melarang. Pernah suatu ketika, sepulang sekolah aku tak langsung pulang, akan tetapi aku pergi main dulu bersama teman2ku sampai sore, lalu saat tiba di rumah, dengan wajah yang sangat menyeramkan ayah memarahiku habis-habisan. Aku menangis. Tapi aku sadar itu salahku.

Juga pernah ketika SD, selama beberapa hari ayah tak menyapaku. Jadi selama SD, aku selalu memperoleh rangking, rangking  2 atau 3 (ga pernah rangking satu..hihiihi).. Aku ingat, saat itu aku kelas 3 SD, saat pengambilan raport cawu 1 (wktu itu masih sistem caturwulan) aku memperoleh peringkat 4. Tampak wajah kurang senang dari ayah saat itu. Aku dinasehati habis2an dan ditanya kenapa sampai prestasiku menurun. Lalu saat terima raport cawu 2, aku peringkat 10. Aku takut bertemu ayah saat itu, hingga akhirnya, setelah penerimaan raport itu, buru2 aku pulang ke rumah, lalu mengemasi beberapa bajuku, dan aku ikut dengan sepupuku k rumahnya. aku izin hanya pada ibu, saat itu ayah belum pulang. Karena libur, aku nginap di rumah sepupuku selama 3 hari, hari ke empat aku pulang. Saat bertemu ayah di rumah, ayah hanya diam, tak menoleh padaku apalagi menyapaku. Aku benar-benar merasa bersalah karena itu. Aku sangat takut ayah memarahiku karena rangkingku saat itu jauh dari biasanya. Setelah 2 hari, akhirnya ibu menyuruhku untuk berbicara pada ayah dan minta maaf, dengan gugup aku menghampiri ayah, dengan ekspresi dan wajah datar ayah bertanya, “Kenapa minta maaf?”.. aku hanya diam, lalu aku jawab, “Karena hanya dapat rangking 10”.. Lalu ayah lagi2 diam, trus menatapku, saat itu aku benar2 takut, dengan nada lebut tapi tegas ayah berkata, “Kenapa bisa sampai turun? Itu jangan terlalu banyak main. Trus kalo mau liburan tu, walau hanya pergi ke rumah sepupu itu harus izin lah sama ayah dulu, jangan sama ibu aja minta izin, memangnya di dunia ini hanya ada ibu? tu besok2 belajar lah yg rajin lagi, jangan sampai kayak gini lagi.” … saat itu aku kelas 3 SD. Dan alhamdulillah, cawu 3 saat penerimaan raport kenaikan kelas 4, aku memperoleh kembali rangking 3, lalu raport2 selanjutnya sampai tamat SD aku tetap berada di posisiku, rangking 2… hhhehhehehehehe…

Aku ingat, saat aku kelas 2 SMA, ayah mulai memberiku kebebasan, suatu ketika ayah bilang padaku begini, “Sekarang anak-anak ayah sudah besar, ayah tak akan melarang-larang melakukan ini itu, ayah percaya anak-anak ayah bisa membedakan mana yang baik dan benar. Ayah kasih kepercayaan kalian, jadi tolong jangan di sia2kan kepercayaan ayah.” dan mulai saat itu, aku bagai burung yang dilepas terbang bebas. Aku sudah dbolehkan pergi kemana saja yang ku mau. Meski begitu, saat SMA, selain pergi main dengan teman, kemana lagi aku pergi kalo ga ke rumah. ya kan? hhihihi

Salah satu kebebasan lainnya yang diberikan ayah sejak kecil itu adalah dalam hal berkendaraan. Aku masih ingat kapan pertama kali di ajarkan naik sepeda. Saat itu usiaku 4 tahun, setelah selesai sholat subuh, aku dan ayah belajar bersepeda di jalan raya karena mobil masih sepi. aku naik sepeda roda empat sdgkan ayah lari marathon. hanya beberapa hari sampai akhirnya aku sudah bisa naik sepeda roda 2, tak ada lagi roda 4. hhehehehe..

Lalu, saat kelas 1 SMP aku minta di ajarkan naik motor pada om ku. Aku takut minta belajar sama ayah karena aku masih kecil aku taku ayah belum mengizinkanku bawa motor, tapi ternyata di luar dugaan, setelah belajar motor secara diam2 dengan om akhirnya ayah tiba2 menyuruhku memboncengnya, untuk tau seberapa besar kemampuanku bawa motor. akhirnya aku dibolehkan bawa motor tapi hanya d sekitar lingkungan rumah. Suatu hari, karena penasaran dan nekat, aku membawa motor ke Jalan besar, ibu kaget dan melaporkannya pada ayah, akan tetapi, ayah menanggapinya dengan tenang dan santai, dan hanya bilang, “Kalau bawa kendaraan itu hati2 dan jangan ngebut.”… ibu tak sependapat dengan ayah, kenapa begitu cepat memberiku kebebasan untuk boleh bawa2 motor, saat itu aku masih kelas 2 SMP, ku dengar ayah dan ibu berdebat saat itu, lalu ayah bilang k ibu kira2 begini, “Anak tu jangan dilarang2 bawa2 sesuatu, dan jangan juga di takut2i bakalan kecelakanlah, jatuhlah, cacat lah, tapi ingatkan aja untuk hati2, kalau udah hati2 tu masih terjadi sesuatu yg buruk juga berarti itu diluar Kuasa kita lagi tu.”… dalam hati aku bergumam senang. Terimakasih ayah mengajarkanku tentang keberanian.

Ibuku pernah bilang, dalam perjalanan pulang dari jakarta-padang setelah mengantarkanku kuliah d UI, di mobil, ayah sempat menitikkan airmata. Sedih berpisah untuk pertama kalinya denganku. Kata ibu dan nenek, tak biasanya saat itu ayahku hanya diam saja di mobil. Ternyata ayah tak hanya diam, ayah menangis saat itu, menangis dalam diam. Ibu yang pertama kali lihat ayah menangis. dan untuk pertama kalinya selama mereka menikah ibu melihat ayah menangis, dan itu karena berpisah denganku. Sejak itu aku tahu, kalau ayah sangat menyayangiku, bahwa ayah tak pernah membeda2kan anaknya, dia punya caranya sendiri dalam menyayangi kami.

Begitulah ayahku, dia selalu punya caranya sendiri dalam mendidik kami. Terkadangdia keras memang, tapi sebenarnya ayah begitu baik dan perhatian. Dia selalu mengajarkan kami tentang bagaimana menghadapi hidup, bahwa hidup tak selamanya berjalan mulus. Ada tawa dalam setiap tutur katanya. Dan itu melekat padaku.

The Best Father in My Life, Forever.. ^^

ayahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: