Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

When i was a child (part 1)

Posted on: Januari 17, 2013


Kakek. Berbicara tentang kakek, hanya sedikit memori yg bisa ku ingat, karena kakek meninggal pada tahun 1998, kala itu aku kelas 2 SD dan usiaku 7 tahun. Tapi satu hal yang ku tahu, masa2 dimana kakek masih hidup adalah masa2 terbaik yg prnah ada, aku punya keluarga dengan jumlah anggota yg begitu banyak dan kehidupan yg harmonis, keluarga besar ibu, dan juga keluarga besar ayah yg bgitu kompak.
Jika dpikir2, dbandingkan keluarga besar ibu, keluarga besar ayah sangat jauh lebih humoris, maka tak heran, dulu setiap akhir pekan ataupun ada liburan sekolah, aku selalu menyambut dengan sukacita utk prgi nginap d rumah nenek (dari ayah), krn selain d sana rumahny lumayan besar, anggotanya pun banyak, banyak tawa yg berderai di sana, dan tidak hanya aku, sepupu2ku yang lain juga dengan antusias yg tinggi selalu berkumpul d rumah nenek. Ah, jika ku ingat masa2 itu, maka tak henti2nya bibir ini menggoreskam senyum.
Aku tak tahu persis berapa jumlah ayah bersaudara, yg pasti saat aku masih kecil, saudarany yg hidup yg ku kenal berjumlah 11 orang, 9 laki2 trmasuk ayah, dan 2 org perempuan, tepat di atas dan d bawah ayah.
Sebanyak itu, tak terbayangkan berapa banyak sepupu yg ku miliki. Dua saudara perempuan ayah kala itu masing2 punya 4 orang anak, lalu beberapa tahun kemudian masing2 melahirkan lagi 1 org anak, total dari keduanya ada 10 orang anak.
Selain cucu kandung, kakek dan nenek juga memiliki cucu tiri, jadi ada adik ayah yg duda kemudian menikah dengan janda yg sudah punya anak, tak ada prbedaan diantara kami, meski cucu tiri, tetap saja kebiasaan berkumpul itu selalu ada.
Kembali berbicara tentang kakek, tubuhnya tinggi tegap, maklum, kakekku memang seorang tentara, menurutku, utk seorang kakek yg berusia sperti kakekku saat itu, kakekku lah yg paling gagah, menurutku.
Setiap kali bermain dengan sepupu2ku yg jumlahnya banyak itu, kakek selalu memperhatikan kami, bahkan terkadang ia menyela apa yg kami bicarakan. Dan terkadang, jika tampak sedikit saja raut wajah kesal d wajah cucu2nya, kakek dengan nada lembut akan menengahi dan menanyakan apa yg terjadi. Lalu jadilah kami lupakan tentang kekesalan kami kala itu.
Karena sering menginap d rumah nenek, aku sering memperhatikan kakek sholat, aku sering mengintip2 kakek jika sholat, aku senang melihat kakek sholat, meski sholat sendiri, kakek selalu melafazkan bacaan sholatnya dengan keras, tenang hati kala aku mendengarnya saat itu. Kakek itu orangnya tegas, terbukti, selama hidupnya, tak satupun ada anggota keluarga yg berani menentang omongan kakek, tapi kakekku tak pemarah, tak pernah kulihat ia marah, dan yg ku tahu memang tak pemarah. Kakekku itu orang yang begitu rapi. Sangat rapi malah, dan juga begitu bersih. Rumah nenek bgitu terawat kala kakek masih hidup, penampilan kakek ku sehari itu begitu rapi, maka tak heran kakekku iu terlihat begitu gagah.
Lalu, tak lama dan tak begitu jelas memori yg ku ingat kala itu, smpai akhirnya kakek sakit. Yg ku tahu saat itu kakek sakit jantung. Beberapa hari sebelum kematiaannya, kakek bersama om ku berkeliling kota padang, mendatangi satu persatu rumah cucunya, dia membawakan mainan, tiap rumah diberikan mainan sesuai berapa org jumlah cucu yg ada d sana. Tentu saja tak terkecuali aku dan adikku, kami masing2 mendapatkan 1 macam mainan. Aku lupa mainan apa yg dberikan kakek saat itu, ahh… andai saja kala itu aku mengerti kalo itu adalah mainan terakhir dari kakek tentu akan kusimpan baik2 mainan itu.
Dan akhirnya kakek menghembuskan nafas terakhirnya, saat itu aku tak menangis, krn memang aku belum mengerti tentang apa itu kematian. Yg ku ingat, kakek d kuburkan pada malam hari. Tampak semuanya merasa sedih dan kehilangan. Pasca kematian kakek, para org dewasa itu berkumpul d dalam rumah nenek, tak tahu apa yg mereka bicarakan, tak ketinggalan kami para cucu2 kakek berkumpul di luar rumah membentuk kelompok kami sendiri. Sedikit yg ku ingat, saat itu yg kami bicarakan adalah segala hal tentang kakek, tentang mainan apa yg kami dapat dari kakek, dan tentang siapa yg paling d sayang kakek, dan tentang siapa yg paling dekat dengan kakek.
Pasca meninggalnya kakek, memang ada sedikit perubahan di keluarga ayah, beberapa waktu kemudian, adik perempuan ayah pindah sekeluarga ke bengkulu karena usaha mereka sedang berkembang d sana. Rumah nenek mulai kekurangan anggota keluarga, tapi tetap, rutinitas bermain setiap akhir pekan tak pernah padam.
Tinggalah d rumah itu kakak perempuan ayah, anak2nya, dan juga nenek. Maka tak heran jika aku lebih dekat dengan keluarga kakak perempuan ayah.
Meski kakak perempuan ayah punya 5 orang anak, tapi rasanya Mak Uwo (begitu aku menyebutnya) sangat sayang padaku. Orangnya lucu, begitu lucu dan sangat lucu. Selalu tertawa jika aku bersamanya. Jika musim nginap menginap d rumah nenek tiba, kami para cucu selalu berkumpul d ruang tengah, becanda, dan bercerita tentang apa saja. Menurutku keluarga ayah memang humoris tingkat dewa, sedang asik2nya berkumpul tiba2 nenek keluar dari kamarnya, memakai rambut palsu panjang miliknya dan berdandan layaknya gadis muda, lalu sambil bernyanyi2 dan menari2 atau lebih tepatnya joget2 sendiri, spontan kami semua tertawa terbahak2, lalu mak uwo juga pasti akan ikut2an, mereka menari2 sambil menarik2 tangan kami satu persatu utk ikutan menari2 bersama. Sepanjang malam yg kami lakukan hanya tertawa, tertawa, dan tertawa. Tapi jika listrik tiba2 mati, bukannya mencari lilin, senter atau apalah yg membuat terang, tapi nenek dan mak uwo dengan jahil menakut2i kami semua, wajah yg paling seram kala gelap itu ya wajah mak uwo. Dan aku yg paling ketakutan diantara mereka semua. Hhihihi…
Jika musim nginap menginap d rumah nenek itu tiba, para tetangga sekitar seperti sudah maklum dengan suara2 ribut dr rumah nenek, itu pasti ulah cucu2 nenek yg super banyak, suara2 ribut mulai dari pekikan, teriakan, gelak tawa, dan segala macam kebisingan ada kala itu. Hahaha
Well… krn jumlah cucu nenek cukup banyak, jadi kami dbagi atas beberapa range umur… cucu utama (generasi 1), itu terdiri dari beberapa org yg memang sudah dewasa, jarak umur mereka berdekatan, kira2 saat itu sudah SMA… lalu cucu generasi 2, nah ini aku dan kelompokku, juga dengan jarak umur yg berdekatan, selisih 1-4 tahun, kira2 masih SD..
Lalu cucu generasi 3, usia masih kecil, kira2 yg paling besar itu umurnya 2 tahun d bawahku.
Dan yg terakhir cucu generasi 4, sangat kecil, bayi dan balita, dan bahkan ada yg msh d dalam kandungan. Hhehehe…
Jadi diantara cucu cewek nenek di generasi 2, akulah yg paling kecil. Meski paling kecil, tapi terkadang aku sering menjadi ketua rombongan, pencetus ide utk bermain ini dan itu.
Suatu ketika, saat itu sore hari. Hujan. Aku seperti biasa tengah berkumpul bersama para sepupu2ku, tergoda melihat tukang bakso yg lewat di kala hujan, langsung kami semua berhamburan keluar rumah, berteriak2 memanggil abang bakso itu, memang enak menikmati bakso d kala hujan dan beramai2 seperti itu. Setelah kenyang dengan bakso yg kami makan, aku dan sepupu2ku kembali becanda2 dan tertawa2, karena hujan, kami tak bisa bermain keluar rumah. Akhirnya kami memutuskan utk tetap berdiam diri di dalam rumah, kadang kami membuat keributan d ruang tengah, kadang d kamar. Nah, saat kami sedang asik main lempar2 bantal d kamar, tiba2 semua sepupu cewekku terdiam, menatap tajam ke arahku, seolah ingin menerkamku saat itu, karena aku yg paling penggeli diantara mereka semua, jadilah mereka mengerjaiku, menggelitikku habis2an, jumlah mereka banyak, aku sendiri, aku dikeroyok dengan kitikan dari segala arah, aku berusaha menerjang, menendang, teriak2 smbil ketawa, tapi tentu saja aku kalah. Bagaimana mungkin aku bisa lepas dari keroyokan kitikan itu, ada yg mengkitik kakiku, perutku, tanganku, dan yg lebih parah, itu pusat geli utama, leherku. Oh My God, lama2 aku semakin dan semakin merasa geli, berteriak smpai tenggorokanku tercekik, dan akhirnyaaa… buuuuaarrr…. aku muntah, semua bakso yg ku makan tadi keluar, isi perutku kosong seketika, semua lantai kamar itu penuh dengan muntahanku.. melihat aku muntah begitu, serentak mereka semua berhamburan lari keluar, dan membiarkan aku yg masih muntah2, nenek dan mak uwo melihat kejadian itu geleng2 kepala, menyuruhku membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu nenek dan mak uwo memanggil mereka semua yg mengkitikku utk membersihkan muntahan2 itu tapi mereka mengelak tidak mau membersihkan. Aku tak tahu siapa yg akhirnya membersihkan kamar dari muntahan itu, entah itu mereka para sepupuku atau mak uwo. Entahlah. Yg pasti sejak saat itu, beberapa hr kemudian, aku sudah tak bisa lagi merasakan geli hingga sekarang. Aku tak penggeli lagi. Saat itu aku berpikir, mereka telah membuat saraf geliku putus. Benar2 putus.
Saat kecil, aku adalah anak yg paling tak takut pada apapun dan siapapun kecuali hantu, meski belum prnah lihat hantu, tp aku paling takut trhadap hal2 sperti tu. Jadi, saat aku dan sepupu2ku tengah asik bermain lompat tali, datanglah para lelaki pengganggu, diantaranya ada seorang anak laki2 yg saat itu seusia dgn spupuku, 3 tahun lebih tua dariku, dia yg paling nakal mengganggu kami, krn kesal d ganggu, akhirnya aku berteriak utk menyuruhnya pergi, tapi semakin aku teriak2 utk mengusirnya, dia malah smakin tertawa terbahak2, tentu saja hal itu membuatku kesal, lalu dengan kekuatan tenaga dalam yg ada. Entah setan dari mana, ketika dia sedang asik meledek kami, aku tiba2 menamparnya, manampar dengan begitu keras sehingga membuat semua orang terdiam termasuk anak laki2 itu, sambil memegang pipinya dengan tangannya, serta merta raut wajahnya berubah, dan dia siap utk membalasku, spontan aku lari teriak2, lari masuk ke rumah nenek, mak uwo yg tahu klo aku dkejar anak laki2 itu, langsung mendatangi tempat kami bermain, aku menguntit dari belakang smbil memegang baju mak uwo, ketakutan jika sewaktu2 anak laki2 itu muncul. Mak uwo memarahi anak laki2 itu, si lelaki membela diri dgn alasan pipinya merah, yap benar2 merah bergaris tangan krn telah ku tampar, tp mak uwo tetap mengomelinya krn jika dia tak mengganggu, aku tak mungkin kesal dan manamparnya, lalu jadilah si lelaki itu ketakutan, tak berani lagi mengganggu kami sejak saat itu. Aku ingat namanya Adi. Maafkan aku Adi.
Sehari sebelum puasa pertama, beberapa org sibuk pergi mandi2, rutinitas yg dsebut dengan ‘balimau’… jalanan depan rumah nenek begitu rame, rame oleh angkot serta motor yg berlalu lalang menuju arah lubuk minturun utk balimau. Aku sendiri tentunya tak pernah ikut serta dlm kegiatan tersebut, krn memang tak ada ritual sperti itu d keluargaku. Siang menjelang sore, aku tengah asik duduk di depan rumah nenek, tiba2 mak uwo memanggilku, mengajakku utk ikut dengannya ke pasar, pergi makan soto. Lalu saat ku tanya, kenapa hanya kita berdua, kenapa tak mengajak anak2nya yg lain, lalu mak uwo bilang, susah ngajak mereka k pasar, mereka suka banyak maunya klo d ajak pergi2, ahh… aku semakin tak mengerti, lalu krn ada ajakan main dari sepupuku, aku lgsg lari begitu saja meninggalkan mak uwo, aku lupa klo aku barusan di ajak pergi, bagi anak kecil sepertiku, ajakan utk bermain tentu lebih menarik dr hal apapun. Ahh… andai saja aku tahu itu ajakan terakhir mak uwo, tentu aku akan ikut dengannya, sampai skrg aku masih menyesal, kenapa tak ku terima saja ajakan mak uwo kala itu. Krn tak lama stelah mak uwo mengajakku, beberapa hari stelah itu, datang kabar mengejutkan saat akan berbuka puasa, sepupuku dari generasi 1 mengabarkan k rumah klo mak uwo sudah tiada, beliau menghembuskan nafas terakhir saat d perjalanan k rumah sakit. Tak ada sakit apa2 sebelumnya, yg ada hanya beliau mengeluhkan rasa sakit kepala yg teramat sangat. Sedih mendengar kabar itu, aku lgsg lari ke rumah nenek, datang dan mematung d depan pintu melihat tubuh yg sudah tak bergerak itu, tubuh itu beberapa hari yg lalu mengajakku makan soto dan aku menolaknya. Tubuh itu yg selalu membuatku tertawa, yg selalu menawariku makan meski aku tak lapar, yg selalu membelaku ketika aku dganggu ketika bermain, yg bahkan memarahi anak kandungnya sendiri hanya utk membelaku, tubuh itu yg slalu menanyakan kapan aku kembali lagi utk menginap ketika aku harus pulang ke rumah, tubuh itu yg memarahiku jika aku pergi main jauh2 dari rumah nenek seolah takut aku kenapa2, ahh tubuh itu begitu menyayangiku, dan kini tiada bergerak sama sekali.
Selamat Jalan Mak Uwo, semoga tenang di sisiNYA. (Ramadhan, 2000)

Kakek dan nenek yg begitu luar biasa..
image

-raf-
-cont-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: