Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

Lembaran Semu

Posted on: Februari 24, 2013


Ada sesuatu yang berdegup berirama tak jelas kala jemari ku membolak balik tiap lembar kertas yang selama bertahun aku tulisi dengan tintaku sendiri. Bingung akan tulisan yang selalu berubah kala tintaku berubah warna. Ah, kenapa tak ku robek saja kala goresanku memudar atas percikan tetes air yang jatuh, begitu jelek tintaku melebur di sana. Dengan cepat jemariku terus membolak balik lembarannya, secepat otakku ingin lupa bahwa aku lah makhluk yang mengisi lembaran itu.
Lalu, aku berhenti pada sebuah lembaran, di sana bukan tulisanku. Yap, secarik kertas yang ku gunting rapi sengaja ku tempelkan dalam lembaran milikku, meski tulisan itu bukan punyaku, tapi di sana carik nya tertuju untukku. Yap, untukku. Benar2 untukku. Sebuah kertas berwarna merah muda, meski tulisannya tak serapi milikku, tapi tiap goresannya, aku begitu menyukainya…
Entahlah, aku tak pernah tau, siapa kamu yang begitu indah menulis lembaran untukku. Andai waktu itu aku bertahan 5 menit untuk sekedar melihat wajahmu, mungkin kita bisa saling berjabat tangan kala itu lalu berlanjut pada perkenalan, bercerita ini dan itu. Tapi, semua itu hanya andaiku. Dan kenapa tak tunjukkan saja dirimu padaku, mengapa begitu takut jika aku melihatmu? Sejelek itukah kamu?
***
2 tahun berlalu sejak lembaran terakhir yang kau tujukan untukku, terkadang aku memikirkanmu, namun terkadang aku seolah lupa, lupa karena kamu begitu pengecut untuk tak menampakkan diri di hadapanku.
Yap, 2 tahun sejak lembaran itu, kau tau, aku memberi ruang pada hati lain untuk bernaung tepat di sini, di hatiku. Tapi perekatnya tak begitu kuat, hingga semua rapuh dan jatuh begitu saja. Tak pernah ada lembaran kala dia memintaku untuk bernaung di hatinya. Ah, andai saja itu kamu, mungkin lembaranmu menjadi perekat terkuat untukku.
Sekarang, ruang di hatiku kosong. Lalu kenapa lembaran itu datang lagi ketika aku sudah lupa. Apakah itu darimu?
Hari ini aku membalik setiap lembar bukuku, mencari lembaran kamu terdahulu yang sempat ku selipkan di sana, bukannya aku lupa tulisanmu, hanya saja aku ingin memastikan apakah benar itu darimu meski hatiku yakin jika itu memang kamu.
Tulisanmu bilang jika kamu begitu menyukaiku, lalu tak sakitkah kamu ketika aku bersama dengannya? Aku tahu jika matamu selalu mengawasiku. Meski sampai detik ini, aku tak pernah bisa menebak siapa kamu. Begitu lihai kamu menjadi bayang bagiku.
“Ku tunggu kamu pukul 2 di gerbang itu, jika memang kamu, datang dan jabatlah tanganku. Hanya itu”
Gelisah aku menunggu, 7 menit lagi tepat jam 2, begitu banyak manusia yang berlalu lalang, namun kenapa tak sedikitpun aku tahu bahwa ada kamu diantara mereka.
Sekarang sudah pukul 3, aku bertahan sampai satu jam.
Demi kamu, dan hanya untukmu.
Jam 3.25
Jam 4.35
Jam 5
Jam 6
Sudah selama itu aku menunggu, kenapa belum muncul juga di hadapanku? Kenapa begitu tega?
Sebentar lagi hujan, terlalu romantis jika aku harus membasahi diri dalam rintiknya untuk menunggumu.
***
1 tahun berlalu sejak hari itu. Ada hati lain yang ingin berteduh di relungku. Memintaku untuk membiarkannya tetap tinggal dan menetap di sini, tapi ku bilang, berteduh sajalah dulu krn aku tak tahu sampai kapan relungku kuat untuk membiarkannya sekedar berteduh sampai akhirnya membiarkannya menetap.
Wahai kamu pemilik lembaran, pasti kamu melihatku bukan? Sakitkah kamu kala dia menggenggam jemariku? Salahmu membiarkan aku menunggu. Kenapa tak datang padaku? Bukan aku yang jahat. Tapi kamu.
***
1,5 tahun aku membiarkan dia berteduh di relungku sampai akhirnya relungku kebanjiran dan membiarkannya hanyut tanpa jejak.
Lalu saat hati kembali kosong, lembaranmu datang lagi menyambutku, seolah tak pernah terjadi apa2. Begitu indah goresan yang kau buat. Sampai akhirnya aku sadar, bahwa tiap lembaran bukuku kini tak lagi goresanku sendiri, melainkan milikmu yang selalu ku tempelkan di sana.
Kali ini, aku tak ingin menemuimu. Benar2 tak ingin. Biarlah kamu dengan keberanianmu selama bertahun2 datang menghadapku.
***
Ternyata kamu benar2 pengecut, mengirimi ku lagi lembaran hampir setiap hari selama kekosongan hati yang melingkupiku, sampai akhirnya aku kembali membiarkan jiwa lain mengisiku. Ini yang ketiga sejak kamu dan lembaranmu muncul di hidupku. Aku harap ini yang terakhir. Setelah itu, tak ada lagi kamu ataupun lembaranmu.
4 tahun berlalu, aku bahagia. Bahagia bersamanya, dan bahagia karena aku melupakanmu.
Sampai akhirnya aku bosan sendiri dengan kebahagiaanku. Bosan dengan semua hal2 indah itu. Kebosananku menjadi, smakin menjadi melingkupi ruang hati, dan aku kembali mendapati diri ini dalam kekosongan hati.
***
Sudah ku duga, lembaranmu kembali trtuju untukku kala hati ini kosong. Aku tak mengerti, kenapa begitu lama kamu menyukaiku. Tak bosankah kamu melihatku berganti hati?
Atau kamu sudah terikat dengan jiwa lain d sana shg tak berani untuk sekedar menampakkan diri di hadapanku?
Ku biarkan kamu lebih lama mengirimi lembaran itu untukku, sampai aku sadar, bahwa umurku tak mengizinkanku untuk terus sendiri. Kali ini, aku mohon dengan teramat sangat padamu. Datang dan mintalah aku jadi milikku. Aku tak peduli jika ada jiwa lain bersamamu, tapi ku yakin, memang tak ada jiwa lain di sisimu.
Aku mohon sampai remuk badanku menunggumu, datang, datang, datang dan nyatakan cintamu padaku? Ku mohon. Mintalah aku jadi milikku.
Tak peduli seburuk apa rupamu. Yang ku tahu, lembaranmu bgitu manis tiap kali aku membaca goresanmu.
Bertahun2 aku tak pernah bosan, benar2 tak pernah bosan menerima setiap lembaran darimu.
Aku yakin kau merasakan sakit yang sama seperti aku yang begitu sakit menunggumu selama itu.
Saat ini, yang ke empat akan datang untuk memintaku. Aku mohon, jangan biarkan kali ini aku memilih selain dirimu. Jangan biarkan aku memilih selain mu. Sekali lagi, jangan biarkan aku memilih selainmu.
***
Akhirnya memang tak ada selainmu yang ku pilih.
Aku biarkan lembaranmu mengisi hariku meski tanpa kamu.
Sampai letih ragaku, sampai rabun mataku, aku tetap membaca dan menunggumu meski yang ku dapati hanya lembaranmu.
Sekarang rambutku telah memutih, aku yakin kamu juga begitu.
Seandainya aku tahu seperti apa rupamu, maka akan ku pastikan bahwa aku bisa menemukanmu.
Di sana, tentu rambutmu pun sudah memutih. Tapi kenapa tanganmu tiada henti menggoreskan bait untukku…?
Ingin aku secara langsung mendengarmu bicara padaku, menyampaikan sepenggal kata yang kau tulis, ingin ku dengar secara langsung kalimatmu itu, Putri jelitaku berselendangkan pelangi yang berdiri anggun di menara kesempurnaan”
Di dunia lain itu, aku yakin aku akan menemukanmu.
***
Hari ini aku terbaring lemah, tapi aku masih tetap ingin membaca lembarmu, berkali aku panggil perawat itu, apakah ada sepucuk surat yang tertuju untukku? Mereka bilang tak satupun ada surat untukku. Kenapa? Kenapa tak menghiburku dengan lembaranmu, meski sedikit rabun, aku masih punya kacamata jika hanya sekedar untuk membaca suratmu meski tanganku terlalu lemah untuk membalasnya.
Ragaku semakin lemah, aku semakin kehilangan arah, tak satupun lembarmu tertuju padaku semenjak aku terbaring di kasur ini. Bahkan aku harus memaki2 perawat2 itu, aku menuduh mereka menyembunyikan lembaranmu.
Aku harus kuat, aku tahu, lembaranmu tak tertuju untukku semenjak lembaran terakhir itu tak ku balas bukan?
Yap, aku harus bisa bangkit dari ranjang ini untuk kembali bisa membalas lembaranmu.
***
Seminggu berlalu, dokter mengizinkanku keluar kamar, dan mengizinkan kembali jemariku menulis. Seorang perawat dengan setia menemaniku, sesekali dia penasaran dan melirik apa yang ku tulis.
Sampai akhirnya, untuk pertama kalinya aku bercerita tentangmu pada perawat itu, dia begitu antusias mendengar ceritaku sehingga aku pun begitu bersemangat untuk terus, terus, dan terus bercerita.
Lalu, si perawat tadi memintaku untuk memperlihatkan lembaran2 mu yang ku simpan rapi dalam kotak itu. Sesekali dia membaca, mengangguk2, dan terkadang mengernyitkan dahi.
Perawat itu bertanya, “ini lembaran dari lelaki anda?”
Dengan senyum penuh kebanggaan aku mengangguk.
Lalu dia bertanya lagi, “dan ini, balasan lembaran yang anda tulis untuknya?”
Sekali lagi aku menganggukkan kepala.
Tapi perawat itu tampak bingung.
“Kenapa tulisan pada semua lembaran itu sama? Seperti semuanya di tulis oleh orang yang sama. Tak ada bedanya tulisan anda dengan dia.”
Perawat itu tampak kebingungan. Kamu tahu, sebegitu miripnya kah kita sampai tulisan pun begitu sama.
Tapi ternyata perawat itu menuduhku. Menuduh bahwa semua lembaran2 itu adalah palsu, adalah aku yang membuatnya sendiri, bukan kamu. Aku begitu marah. Marah sampai aku harus memaki perawat itu dan menamparnya. Aku benci perawat itu. Karena dia aku terkurung di sini. Bersama para orangtua itu.
Tapi satu hal yang tetap ku senangi, meski di sini tak seperti rumahku, meski di sini membosankan, aku masih senang tetap bisa membalas lembaranmu, dan aku tetap senang membaca lembaran2mu itu. Aku tahu, kemanapun aku pergi, sejauh apapun aku pergi, kau pasti bisa menemukanku dan mengirim lembaran2 mu untukku meski kamu terlalu pemalu untuk sekedar bertemu denganku.
***
Rumah Jompo, Panti Sosial Tresna Wreda.

-raf-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: