Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

Bingkai Dusta

Posted on: Maret 3, 2013


Lima tahun berlalu sejak pernikahanku dengan Mas Ardi, kami masih hidup berdua, tak ada tawa anak-anak ataupun langkah kaki kecil yang berlarian di rumah kami. Begitu sepi terasa jika akhir pekan tiba. Hanya ada kami berdua di rumah. Terkadang di sela sela waktu kosong kami mengisinya dengan bersih-bersih rumah bersama, pergi ke taman hiburan, ataupun sekedar jalan-jalan berwisata kuliner. Tak pernah ada masalah diantara kami, jika pun ada pertengkaran yg terjadi, itu lebih karena perubahan mood ku yang selalu ada setiap kali aku mendapat siklus bulanan. Jika sudah begitu, Mas Ardi hanya bisa diam, lalu ketika melihat aku bosan dengan sikap diam dan tak acuhnya, barulah Mas Ardi kembali mencoba untuk menggodaku, lalu setelahnya kami hidup seperti biasa. Selama lima tahun kami menjalani hidup begitu bahagia, seperti pengantin baru setiap harinya.

Tepat d ulang tahun pernikahan kami yang ke lima, aku meminta sesuatu hal yang selama ini selalu di tolak Mas Ardi, aku meminta Mas Ardi agar mau ikut bersamaku memeriksakan diri ke dokter. Kenapa kami belum satupun dikarunia anak. Kali ini, setelah 3 tahun memaksa Mas Ardi, akhirnya dia luluh dan mau juga mendengar omonganku. Keesokan harinya, kami berdua sengaja cuti dari kantor untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan dokter mengatakan bahwa hasil tes nya bisa diambil keesokan harinya. Cemas dan deg deg kan itulah perasaan yang melingkupi hatiku saat itu. Mas Ardi dan aku berusaha untuk bersikap biasa, padahal saat itu, baik aku atau pun Mas Ardi merasakan ketegangan yang luar biasa, terasa jarum jam berputar begitu lambat malam itu.
Pagi itu, “Mas, siang ini jadikan kita ke klinik?” Mas Ardi mengangguk, mengecup kening dan mengusap rambutku, seolah berusaha membuat aku agar tetap tenang, padahal yang ku tahu, Mas Ardi lah yang paling tegang saat itu. Saat jam istirahat siang tiba, Mas Ardi janji untuk menjemputku di kantor, tapi tiba-tiba dia bilang masih ada urusan sehingga kemungkinan agak telat nyampe di klinik. Ah, kenapa bisa untuk masalah seperti ini Mas Ardi masih saja sibuk di kantor. Jadilah saat itu aku naik taksi menuju klinik. Masih dalam suasana yang begitu tegang. Sampai ketika membuka pintu ruang praktek dokter itu pun tanganku masih bergetar. Dokter berbicara panjang lebar padaku tentang ini dan itu. Aku menangis sedih. Begitu terisak di hadapan dokter itu. Keluar dari ruang praktek dokter tersebut, aku membuang ke tong sampah hasil pemeriksaan kami. Aku mengusap airmataku, berusaha untuk tetap tersenyum.

Sorenya aku lebih banyak diam. Berkali kali menukar channel tivi, tak tahu apa yang ku tonton karena pikiranku terfokus pada hal lain. Selepas magrib, terdengar suara mobil Mas Ardi masuk ke garasi. Aku berusaha tenang menyambut Mas Ardi di depan pintu. Seperti biasa, saat Mas Ardi masuk ke rumah, aku membawakan tas nya, segelas air putih hangat telah ku siapkan semenjak tadi di meja. Mas Ardi perlahan meneguk air nya. Masih dalam suasana kaku, Mas Ardi seperti membiarkan diri untuk melepas lelah sejenak seperti tak ingin langsung membicarakan hasil lab tadi. Ku biarkan Mas Ardi berganti pakaian, mandi, lalu setelahnya makan malam. Hanya pembicaraan seputar kantor yang ada saat itu.
Selesai makan malam, barulah Mas Ardi mendekatiku. Bertanya tentang hasil pemeriksaan yang kami lakukan kemarin. Seketika aku melangkah dan memeluk Mas Ardi. Begitu erat sampai aku tak sadar bahwa aku sendiri telah larut dalam isakan tangisku. Mas Ardi membiarkanku begitu, sambil mengusap lembut rambutku, berusaha agar aku tampak tenang.
Setelah agak lama, dan aku sudah mulai tenang, aku bicara pada Mas Ardi. “Mas, hasil lab itu sudah aku buang, aku merasa tak ada gunanya.” Mas Ardi mengernyitkan dahi,
“Kenapa? Apa hasilnya?” Tanya Mas Ardi yang penasaran padaku.
“Hasilnya. Kamu mandul Mas” Mas Ardi tampak terkejut dan shok. Aku menggenggam erat jemari Mas Ardi, kali ini, aku yang berusaha membuatnya untuk tetap tenang.
“Meski begitu, kita akan tetap terus bersama Mas, aku ga akan ninggalin kamu. Percaya padaku Mas, karena aku begitu mencintaimu.”
Mas Ardi mulai bisa tersenyum. Dia mengecup kening dan memelukku erat. Malam itu, kami larut dalam pemikiran masing2, dan aku masih ingin merasakan pelukan itu sampai kapanpun.
****
Tujuh tahun kebersamaan kami. Tak ada yang berubah diantara kami. Masih sama seperti dulu. Menikmati hari berdua seperti orang pacaran. Karena tak ada anggaran untuk anak, maka kami memiliki tabungan yang lebih, setiap tahun kami sama2 mengambil cuti kerja untuk sekedar refreshing, liburan, jalan2 ke luar negri. Banyak negara di Eropa, Amerika, dan tentu saja Asia yang telah kami kunjungi. Seperti berbulan madu setiap tahun. Begitu indah hari2 yang ku jalani bersama Mas Ardi, suamiku. Sampai akhirnya, aku dan Mas Ardi sepakat untuk mengadopsi anak. Meski tak merasa kekurangan pun, aku dan Mas Ardi sama2 berpikir, untuk apa harta dan kebahagian yang begitu banyak jika kita tak bisa membuat orang lain di sekitar kita bahagia.

Kami mengunjungi sebuah panti asuhan, senang rasanya melihat anak2 itu bermain tanpa beban, tanpa duka, yang ada hanya keceriaan. Mas Ardi dan aku sama2 memilih bayi kembar boerusia 2,5 tahun. Bayi perempuan kembar itu begitu lucu dan manis. Kepala panti asuhan bilang kalau ibu dari bayi itu meninggal saat melahirkan mereka, sedangkan sang ayah hilang tanpa jejak saat melaut. Kedua orangtua bayi kembar tersebut adalah perantau yang tak memiliki sanak saudara siapapun. Saat pertama melihat mereka, aku dan Mas Ardi sama2 menyukai mereka. Kami begitu yakin bahwa kami mampu mendidik dan menjadikan dua gadis kecil itu menjadi seorang wanita yang membanggakan siapa saja. Kami memberi mereka nama Kamila dan Kashmala. Kamila itu artinya kesempurnaan, seindah2 bentuk dan rupa yang nantinya juga akan menjadi keindahan dalam sifat dan tutur katanya, sedangkan Kashmala itu berarti necklace of flower, dimana nantinya dia akan menjadi seperti bunga yang mekar, indah, dan menyegarkan setiap tatap mata yang melihatnya.
Demi mengurus si kecil, aku sengaja berhenti bekerja di kantor agar perhatianku terfokus dalam mendidik mereka. Mas Ardi tak mempermasalahkan hal itu. Mas Ardi selalu mendukung setiap keputusan yang ku pilih selama itu masih berpengaruh baik bagi kehidupan kami.
Rumah mulai terasa ramai, begitu bahagia. Tak pernah aku melihat Mas Ardi begitu bersemangat. Tawanya begitu renyah terdengar kala bermain dengan si kembar. Semakin bahagia kehidupan yang ku rasa. Meski ada sesuatu hal yang sangat mengganjal terasa di relung hati. Semuanya tertutupi gelak tawa mereka.
****
Tahun demi tahun berlalu begitu cepat, si kembar sudah menjadi gadis remaja yang begitu manis dan cantik. Tanpa terasa tahun depan mereka sudah akan masuk perguruan tinggi.
Dua tahun setelah berhenti kerja di kantor, aku memulai bisnis rumahan, aku memilih usaha catering, alhamdulillah, setelah menjalani naik turun dalam menjalani usaha, kini usahaku telah berkembang begitu pesat.
Kamila dan Kashmala sejak kecil sudah ku berikan pendidikan yang terbaik. Aku dan Mas Ardi benar2 menginginkan yang terbaik untuk mereka. Termasuk dalam mengasah bakat mereka. Sejak kecil, aku membiarkan mereka memilih alat musiknya sendiri. Kamila tertarik pada biola, sedangkan Kashmala sangat tertarik pada piano.

Suatu ketika, aku dan Mas Ardi pergi berkunjung ke rumah teman lama karena ada keperluan bisnis. Waktu menunjukkan pukul 17.45, 15 menit lagi waktunya si kembar selesai les musik. Maka kami sepakat untuk sekalian menjemput mereka di tempat les. Tepat pukul 6 sore, Kamila keluar dari ruang latihannya, aku menyambut dia dengan sebuah pelukan hangat. Tapi, Kashmala sampai saat ini belum juga keluar. Lama kami menunggu akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam. Betapa terkejutnya aku ketika sang pelatih mengatakan bahwa Kashmala tak ikut kursus hari ini. Seketika mood ku berubah. Mas Ardi dan Mila yang tahu bahwa aku sedang badmood hanya bisa diam mendengar aku mengoceh tentang ini dan itu. Makan malam sudah terhidang di meja, tapi tak satupun dari mereka ada yang mau menyantap makanan itu, baik Mas Ardi ataupun Kamila. Sementara aku, gelisah mondar mandir di depan pintu rumah, menanti Mala pulang.
Satu jam..
Dua jam..
Aku masih menunggu.
Tepat jam delapan malam. Mala datang. Mas Ardi memberi isyarat agar aku tak emosi. Aku berusaha menenangkan diri. Mala mencium tanganku dan Mas Ardi saat masuk rumah. Mala terlihat sedikit gugup kala itu, bingung, kenapa suasana tampak begitu tegang. Apa karena dia pulang jam segini.
Semua masih diam, Mila duduk diam di kursi, Mas Ardi tepat duduk di hadapan Mila, sementara aku berdiri persis di depan Mala.
“Kenapa baru pulang Mala?” Tanyaku dengan nada yang berusaha untuk tenang.
Sedikit gugup Mala menjawab, “Tadi ada belajar tambahan di tempat kursus makanya pulang agak telat.”
Kaget aku mendengar jawaban Mala. Begitu kecewa. Selama ini aku mendidiknya dengan sangat baik. Tak pernah aku mengajarinya berbohong seperti itu. Seketika aku berteriak memarahi Mala.
“Kapan Mama pernah mengajarimu berbohong? Kamu tak datang ke kursus hari ini. Lalu kemana kamu? Kemana? Jawab!”
Mala membisu. Dia kaget. Kenapa aku bisa tahu dia berbohong.
Aku begitu marah. Memegang erat bahu Mala lalu mengguncang2 tubuh gadis itu. Tapi Mala hanya diam saja. Membuatku semakin jengkel karena tak menjawab pertanyaanku. Seketika aku mendorongnya hingga terjatuh. Aku sendiri tak sadar kenapa aku begitu kasar. Mas Ardi yang melihat itu seketika berlari dan membantu Mala berdiri. Mas Ardi menatapku tajam, aku hanya diam. Lalu seketika sebuah tamparan melayang mulus di pipiku. Itulah kali pertama Mas Ardi menamparku sejak 28tahun pernikahan kami. Aku begitu kaget dan terkejut.
Dengan suara bergetar Mas Ardi berkata, “Kamu memang tak pernah mengajarinya berbohong. Tapi aku tak suka dengan caramu memarahi anak. Kenapa tak bisa sabar? Apa seperti ini seorang ibu bersikap?”
Semua diam. Termasuk aku. Mematung di ruang tengah. Mas Ardi menyuruh Mila membawa Mala masuk kamar. Tak lama, Mas Ardi keluar rumah. Tak tahu persis jam berapa Mas Ardi pulang, saat aku bangun keesokan subuhnya, aku melihat Mas Ardi tertidur di kursi tamu.
Aku begitu menyesal. Selama ini tak pernah Mas Ardi memarahi apalagi mengasariku seperti itu. Perlahan ku coba membangunkan Mas Ardi untuk sholat subuh berjamaah. Seusai subuh, kami semua berkumpul. Aku meminta maaf kepada Mas Ardi dan juga Mala atas sikapku. Begitupun Mala, sambil terisak ia mencium tanganku, Mala begitu menyesal telah menuruti ajakan teman temannya untuk sekedar kumpul2 tak jelas hingga harus bolos kursus, berbohong, serta membuatku kecewa.
Pagi itu, semua kembali terasa damai. Sedamai kehidupan kami di tahun2 sebelumnya.
****
Januari 2003. Telpon rumah berdering. Tak ada satupun penghuni rumah meungangkat telpon itu. Bergegas aku keluar kamar untuk mengangkat telpon. Suara baru yang tak pernah ku kenal bicara dari seberang sana. Seketika aku memucat, menjatuhkan telpon yang ada di tanganku. Dunia terasa berhenti berputar ketika itu.
Aku berusaha bangkit dan berdiri, berjalan menuju pintu depan. Mala yang saat itu baru pulang kuliah tiba2 masuk. Aku tak tahu persis seperti apa, tiba2 aku merasa tak mendengar apapun, pandanganku kabur. Dan aku tak ingat lagi kejadian setelah itu.

Saat sadar aku melihat Mala terlelap di kursi. Ku lirik jam dinding yang ada, menunjukkan pukul 2 dini hari. Selama itu aku tertidur.
Mataku melihat sekeliling. Semua putih. Aku tahu ini pasti di Rumah Sakit. Lalu sontak aku berteriak menyebut nama Mas Ardi. Mala tersentak bangun kala itu. Berusaha membuatku tenang. Tapi aku masih saja berteriak setengah menangis memanggil manggil Mas Ardi.
“Papa baik-baik saja Ma. Ada Mila di sana yang menjaga Papa.” Ucap Mala kala itu.
Aku tak peduli apa yang dikatakan anakku, aku ingin bertemu Mas Ardi sekarang juga.
Mala memapahku menuju ruang perawatan Mas Ardi. Saat masuk, tampak tubuh suamiku terbujur kaku dengan alat2 itu. Aku menangis di sisinya. Tubuh yang begitu kuat selama ini melindungi aku, dan anak2 kini harus terbaring lemah di sini.
Kelopak mata Mas Ardi tampak bengkak seperti terkena benturan, padahal mata itu dulu yang begitu indah menatapku setiap waktu.
Mila dan Mala bersamaan merangkulku. Mengusap2 lembut punggungku. Bertiga kami terisak di sisi orang yang begitu amat sangat kami cintai dan mencintai kami. Berharap keajaiban datang sehingga dengan cepat kebahagian yang selalu ada kembali terulang.
****
Sudah sebulan semenjak kecelakaan itu menimpa Mas Ardi. Sampai saat ini, Mas Ardi masih terbaring lemah, belum sadarkan diri. Sejak Mas Ardi dirawat, selangkahpun aku tak pernah meninggalkan Rumah Sakit itu. Benar2 tak ada hal lain yang ku pikirkan selain Mas Ardi, aku ingin tetap bersamanya, menjadi orang pertama yang dia lihat ketika sadar nanti. Meski terbaring lemah begitu, Mas Ardi masih terlihat gagah di mataku. Setiap hari dengan telaten aku membersihkan tubuh Mas Ardi, sedikit membantu meringankan tugas para perawat itu tentunya. Mala dan Mila juga bergantian membantuku. Mala membantu menggantikanku mengelola katering, sementara Mila membantu mengurus rumah dan segala keperluan lainnya. Saat siang, Mala dan Mila beraktivitas seperti biasa, dan bila malam tiba, mereka ikut menemaniku tidur di Rumah Sakit, dan tak jarang mereka membawa tugas2 kuliahnya dan mengerjakannya di Rumah Sakit.
****
Delapan bulan berlalu, Mas Ardi masih belum sadarkan diri. Biaya Rumah Sakit menguras tabunganku. Setelah berunding, Aku, Mila, dan Mala sepakat untuk menjual tanah peninggalan almarhum orangtua Mas Ardi. Tak ada jalan lain selain menjual tanah itu. Tidak akan ada yang menuntut karena Mas Ardi adalah anak semata wayang, tak ada saudara.
Aku menyuruh Mila membawakan sertifikat tanah. Bertahun2 map itu terletak tak tersentuh di lemari karena selama ini baik aku atau pun Mas Ardi tak pernah ingin menjual tanah itu.
“Warna kuning Nak, letaknya di tumpukan map paling bawah, lemari yang sebelah kiri ya sayang.” Ucapku pada Mila yang menelpon dari rumah ketika itu.
Tak lama Mila datang membawakan map yang ku maksud. Aku membuka dan mengecek lembaran sertifikat itu. Ada beberapa kertas lusuh terselip di dalamnya, aku melihat dan mengecek apa isinya. Betapa terkejutnya aku saat itu.
Selembar kertas hasil pemeriksaan lab yang aku dan Mas Ardi lakukan 25 tahun yang lalu. Aku membaliknya, tampak di sana tulisan tangan Mas Ardi, tulisan yang beberapa bagiannya seperti luntur basah terkena air. Mungkin saja airmata yang jatuh saat Mas Ardi menulisnya.

“Jawaban atas pertanyaan kami selama ini akhirnya terjawab. Aku sudah menyangka, pasti ada yang salah diantara kami, pasti salah satu dari kami tidak bisa memberikan keturunan. Ah, aku tak ingin duka itu menyelimuti dan mempengaruhi kebahagian ini. Aku tak sanggup melihat kekecewan Renna jika ternyata aku yang bermasalah, dan aku juga tak sanggup melihat kesedihannya jika ternyata dia yang bermasalah. Ku putuskan untuk tidak ikut bersamanya ke klinik itu. Tepat jam 10, aku datang lebih dulu ke klinik itu. Sebenarnya aku cuti kerja saat itu, tapi aku malah berbohong pada Renna dengan mengatakan ada keperluan kantor. Maafkan aku.
Lega karena memang benar tak ada masalah padaku. Tapi, aku tak sanggup melihat kesedihan Renna jika dia tahu masalah itu ada padanya, maka ku minta dokter membuat dua salinan hasil lab itu agar istriku tak tahu kalau aku sudah lebih dulu melihat hasilnya. Lama aku termenung di parkiran mobil sampai akhirnya aku melihat Renna datang dan masuk ke klinik tersebut. Setengah jam kemudian dia keluar dengan wajah pucat. Meremas kertas yang ada di tangannya lalu membuangnya. Ah, seandainya dia tahu, aku lebih terisak saat melihatmu begitu Renna. Aku sengaja pulang sedikit telat agar Renna tak mencurigaiku. Aku takut dan sangat takut melihatnya menangis. Aku takut melihatmu bersedih Renna karena aku tak pernah ingin kamu bersedih. Malam i tu, kubiarkan Renna terisak dalam pelukanku. Memang berat untuknya tahu bahwa dia mandul. Saat itu yang ada di pikiranku, apapun akan kulakukan untuk membuatmu tersenyum Renna meski itu melukaiku. Sampai akhirnya Renna mulai bicara padaku. Dengan hati2 aku mendengar kalimatnya. Kalimat yg mungkin sangat sulit utk di ucapkannya. Tapi, betapa terkejutnya aku saat Renna berkata bohong. Sebegitu takutnya kah Renna kehilanganku sehingga harus berbohong dengan mengatakan bahwa aku mandul. Kenapa Renna? Kenapa begitu takut untuk jujur padaku? Padahal sampai kapanpun aku tak akan meninggalkanmu. Kenapa tak percaya aku? Ku singkirkan ego yang sempat menggelayuti pikiranku. Jika memang dengan kebohongan itu Renna bisa tersenyum, aku rela dituduh apapun. Jika memang dengan kebohongan itu kebahagian kan terus muncul, aku rela untukmu Renna. Tak tahu sampai kapan kebohongan itu terus ada, tak tahu sampai kapan Renna akan jujur padaku, yang pasti, sampai kapanpun Aku mencintainya. Mencintai Renna melebihi nyawa dan harga diriku. Benar2 sangat mencintainya.
I love you, Renna.”
****
Aku menangis di sisi Mas Ardi. Bertahun tahun aku memendam kebohongan yang kubuat. Bertahun tahun aku ketakutan jika suatu saat Mas Ardi tahu bahwa sebenarnya aku lah yang mandul. Takut jika Mas Ardi harus pergi meninggalkanku. Maafkan aku Mas, andai saja aku tahu kamu juga sangat begitu mencintaiku dan tak akan pergi meninggalkanku, mungkin aku dari awal akan jujur. Maafkan jika cintaku padamu berbingkai dusta. Maafkan aku.
Saat ini, aku benar2 optimis ingin melihat Mas Ardi sadar, memeluknya dengan sangat erat, dan bersujud di kakinya memohon ampun. Memohon ampun pada lelaki yang begitu mencintaiku, yang rela di cabik harga dirinya demi cintanya padaku, yang begitu rela selama 25 tahun aku vonis mandul, yang masih dengan setia menghadirkan senyum untukku, memberiku kebahagian bertubi tubi, yang dengan penuh kehangatan memelukku setiap waktu. Aku rindu kamu, Mas. Rindu segala sikapmu. Rindu sikap diam kamu saat aku sedang datang bulan. Rindu kamu yang selalu tiba2 memelukku dari belakang setiap kali aku memasak di dapur. Rindu memukul lembut tanganmu saat kamu mencomot masakanku tanpa cuci tangan. Rindu bersamamu mengantar jemput si kembar, menonton pertunjukkan musik mereka. Merangkul bahumu kala kita duduk di kursi penonton dan menatap bangga bahwa di panggung itu dengan penuh penjiwaan si kembar memainkan alat musiknya. Rindu saat aku melihatmu terharu kala mereka di hadapan ratusan penonton berkata bahwa penampilan malam ini spesial untuk kita, si kembar menunjuk ke arah kita, dan kamu tersenyum bangga saat semua orang menoleh pada kita. Aku rindu saat2 itu. Rindu hadirmu selalu. Aku mohon dengan teramat sangat bangunlah sayang. Bukankah kamu janji untuk menemaniku selamanya. Membayangkan aku dan kamu duduk di kursi rotan itu dengan rambut yang sepenuhnya telah memutih sambil tersenyum menatap anak cucu kita berlarian ke sana dan kemari. Membayangkan aku yang tertatih berjalan merangkul bahumu dan kamu memegang tongkat. Membayangkan hari tua kita bersama. Aku mohon kamu bangun. Jangan habiskan sisa hidupmu di kasur ini. Habiskan sisa hidupmu bersamaku. Aku mohon dengan teramat sangat.
****
Sepuluh bulan 23 hari berlalu. Dokter bilang, kondisi Mas Ardi sudah agak membaik. Jika ada keajaiban, mungkin dia bisa sadar. Aku di sini bersama anak kita masih menunggu keajaiban itu. Masih selalu berdoa untukmu. Masih ada beberapa rekan kerja dan kerabat yang datang berkunjung ke Rumah Sakit. Semuanya mendoakan kamu Mas.
Malam itu, pukul 11 malam, aku sudah sangat mengantuk hingga tertidur d kursi. Mala sedang asik mengerjakan tugasnya. Sementara Mila masih dengan merdu melantunkan ayat suci sejak selesai Isya tadi. Mila duduk persis di samping kasur Mas Ardi. Tiba tiba Mila berteriak hingga membuatku terbangun.
“Ma, mata papa bergerak. Coba sini lihat.”
Aku dan Mala langsung menuju kasur Mas Ardi. Mila benar, mata Mas Ardi bergerak seolah ingin terbuka. Seperti berusaha keras untuk membuka, beberapa menit kemudian Mas Ardi membuka matanya. Mala berteriak memanggil suster dan dokter jaga yang ada di sana. Tak lama beberapa orang berpakaian putih2 masuk dan memeriksa kondisi Mas Ardi.
****
“Kakeeekkk…. Neneeeeeekkkk……..”
Seorang bocah kecil tengah asik memanjat seluncuran taman itu. Lalu tak jauh dari sana, seorang bocah dengan rambut pirangnya juga tak kalah seru berteriak dari ayunannya.
“Grandpaaaaaa…. Grandmaaaaaaa….”
Tertatih aku berusaha bangkit, Mas Ardi memapahku berjalan.
“Kok jadi aku yang pakai tongkat? harusnya kan Mas.” Kataku cemberut.
“Itu supaya kamu tak repot sayang. Masa nenek2 memapah kakek2?? Klo aku yang memapah kamu itu tak apa. Aku kan lelaki.”
Aku mencubiti pinggang Mas Ardi.
“Klo begini terus, ga bakalan sembuh ni nyeri pinggang. Tiap hari di cubitin nenek cantik.”
“Iisshh.. dasar kakek genit.”

10 tahun berlalu sejak saat Mas Ardi sadar dari koma nya. Kehidupan kami masih bahagia seperti dulu. Mas Ardi menangis saat dulu aku meminta maaf atas kebohongan yang ku buat. Katanya, dari awal dia telah memaafkanku karena baginya tak ada yang salah dalam hal mencintai.
Kembali aku dan Mas Ardi merajut hari2 bahagia kami. Mala yang nakal lulus dengan predikat terbaik di kampusnya, dan semenjak aku menyuruhnya mengambil alih usaha katering selama sakit, semenjak itu, jiwa bisnis Mala mulai terasah, berkali2 Mala dinobatkan menjadi siswa berprestasi di kampusnya. Saat ini gadis nakal itu tengah mengurus bisnis nya yang ada dimana2. Keseringan mengurus bisnis dan melakukan perjalanan ke luar negri membuatnya bertemu dengan pemuda berkebangsaan Turki, mereka bertemu dalam sebuah kerjasama bisnis, intensitas bertemu yang begitu sering membuat mereka saling jatuh cinta, dan akhirnya menikah.
Sedangkan Mila, masih dengan hobi musiknya. Mila dengan biolanya juga tak kalah sering melakukan perjalanan ke luar negri untuk pertunjukkan musiknya. Akan tetapi, Mila tak begitu tertarik pada orang asing, baginya produk lokal jauh lebih menarik. Terinspirasi dari kisah cintaku dengan Mas Ardi, Mila pun bertekad hanya ingin menikah dengan lelaki seperti Papanya. Maka tak heran, agak susah memang menaklukkan hati gadis yang satu ini. Banyak lelaki yang datang ke rumah untuk melamarnya. Tapi tak ada satupun yang diterima. Selidik punya selidik, ternyata Mila sudah sejak lama menaruh hati pada teman sekelasnya ketika SMA dulu, cowok kutu buku, berkacamata tebal, dan terlihat begitu lemah, entah apa yang membuatnya berubah, yang pasti saat datang melamar Mila, dia sudah berubah menjadi pemuda tampan dan terlihat begitu berwibawa. Usut punya usut lagi, ternyata lelaki tersebut juga sudah lama menaruh hati pada Mila. Meski tak pernah saling bicara, ternyata mereka saling memendam rasa yang sama, cinta mereka ada meski dalam diam. Akhirnya keinganan Mila untuk mendapatkan pemuda yang diinginkannya terwujud juga.
****
“Rangkulan kakek tua sepertimu Mas sudah tak seperti dulu lagi”
“Tapi masih hangat kan?”
“Kakek genit.” Ucapku sambil mencubit manja pinggang Mas Ardi.
Mas Ardi mengecup keningku lalu seperti biasa memelukku.
“Bibir kamu sudah keriput ya Mas.”
“Bibir kamu juga. Tapi masih bagus kok.”
“Yee.. Tapi tetap aja keriput.”
“Klo gitu yukk kita coba dua bibir keriput ini”
Lalu seketika itu jugaaa…………
Sensooooorrrr….
****
End.

-raf-

2 Tanggapan to "Bingkai Dusta"

semula saya agak bimbang, khawatir kalau hanya judulnya saja yang bagus, isinya tidak sebagus judulnya. Karena itu aku membacanya pelan-pelan. Ternyata isinya juga bagus. Terutama isinya yang selalu optimis. Saya menyukai cerita yang berakhir bahagia karena Tuhan itu hanya ingin membuat manusia berbahagia. Saya ucapkan berkaryalah terus dan jaga mutu cerita.. salam kenal dari saya Oldman Bintang Rina.

Terimakasih banyak Om sudah berkenan mampir dan membaca blog saya. Terimakasih juga sudah memberikan apresiasi atas tulisan saya.
Sekali lagi, terimakasih ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: