Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

Letter

Posted on: Maret 29, 2013


Dear Rizka,
Semoga berkah bahagia selalu tercurahkan untukmu.
Tinggal 2 hari lagi usiamu genap 22 tahun. Sudah selama itu kamu hidup. Kamu tau Rizka, 22 tahun yg lalu, di bulan suci Ramadhan itu ibumu merasakan sakit perut sehingga ayahmu membawanya ke rumah sakit, sakit yg begitu perih tapi membahagiakan. Minggu pagi yang cerah ketika tangismu pecah seiring munculnya sang fajar. Begitu halus dan lembut kulitmu ketika suster membersihkan sisa darah yang masih menempel di tubuhmu, sedangkan ibumu masih berjuang menahan sisa kesakitan yang ada namun seutas senyum tersimpul di pelupuk bibirnya kala melihat tubuh mungilmu. Kamu tahu rizka, tak butuh banyak waktu untuk membuat ayahmu merasa menjadi orang paling bahagia untuk pertama kalinya dalam hidup ini memilikimu.
Masih di tahun 1991 itu, pastinya semua keluarga besarmu begitu bersuka cita, bagaimana tidak, cucu pertama di keluarga ibumu akhirnya lahir juga, begitu cantik.
Pastinya kamu bangga akan nama pemberiaan ayahmu, nama yg begitu unik, karena tak seorang pun mungkin di dunia ini yang memiliki nama persis seperti nama belakangmu, yap, Aganda Fajrum.. nama yang begitu istimewa untuk manusia yang memang terlahir istimewa sepertimu. Masih teringat dengan jelas betapa bangganya kamu setiap kali ada yang bertanya arti namamu. Betapa kami sangat menyukai nama itu, akan tetapi aku pun ingat wajah kesal mu jika ada yang meng olok2 nama itu.
Rizka, sekarang kamu sudah dewasa, sudah hampir 22 tahun hidupmu di dunia ini, selama itu? Meski ku tahu Rizka, dua hal yang kau rasa ketika tanggal spesial itu tiba, antara senang dan sedih, senang jika ada orang2 yang mengingat hari itu karena adanya dirimu, dan sedih karena mungkin tak banyak waktu tersisa yang kamu miliki di dunia ini, semakin berkurang dan berkurang saja.
Rizka, jika nanti hari itu tiba, maaf jika tak ada kado untukmu, maaf jika yang ada hanya sebuah ucapan dan doa, meski ku tahu kamu bukanlah tipe orang yang menuntut harus diberi ini itu, meski ku tahu kamu cuma ingin diperlakukan spesial, pastinya ada sedikit harapanmu tentang hadiah spesial. Meski kamu tak mempermasalahkannya, aku tahu jauh dalam relung hatimu ada sedikit kecewa. Maaf Rizka.
Rizka, bagaimana jika nanti hanya aku yang mengingat hari lahirmu? Hari dimana Tuhan memberi anugrah terindah berupa adanya dirimu, diri yang mampu memecah tawa dalam setiap suasana, dirimu yang mampu menghapus duka meski tak sempurna sirna, dirimu yang begitu hidup terpatri dalam relung hati keluarga, kerabat, dan semua orang yang mengasihi dan kau kasihi. Betapa hari itu bgitu berharga.
Rizka, jika nanti hari itu tiba, berterimakasihlah pada Tuhan dan Ibumu, karena di hari itu Tuhan masih memberi ibumu kesempatan hidup meski separuh nyawanya ada padamu saat itu.
Rizka, maaf atas semua hal. Juga maaf atas segala hal yang menjadikanmu menyebalkan di mata orang2 terdekatmu. Maaf atas sikap keras kepala yang menjadikanmu orang yang bgitu egois dan bahkan mungkin menjadikanmu orang yg terlalu memaksa kehendak. Maaf atas segala amarah yang ada. Maaf atas sgala kesedihan yang timbul. Maaf atas segala airmata yang jatuh di sudut matamu. Maaf. Maaf. Maaf.
Rizka, kamu selalu bilang bahwa, sudah selama ini hidup, tak begitu banyak hal yang kamu lakukan untuk dirimu dan orang sekitarmu, kamu selalu bilang bahwa jalan hidup setiap orang itu tak harus sama. Aku suka semangatmu. Semangat yang tak pernah ku temui sebelumnya, meski ku tahu ada airmata yang pecah saat perlahan kau coba kumpulkan semangat itu. Katamu, hidup tak semulus apa yang kita bayangkan, dan kamu selalu berkata, bahwa hidup itu untuk dijalani bukan di sesali.
Rizka, kenapa begitu tenang hidup yang kau jalani? Seperti seolah tak ada beban. Meski terkadang kamu gagal, tak pernah ku lihat semangatmu memudar, dimana kamu selalu percaya dan meyakinkan dirimu sendiri bahwa dengan berkata ‘kegagalan itu adalah aku yang ciptakan, jadi konsekuensinya harus ikhlas aku terima, dan harus aku mau untuk memperbaikinya. ‘
Rizka, mungkin dugaanku benar, bahwa hadirnya dirimu di dunia ini adalah untuk memberi dan mendapat kebahagian. Bagiku, begitu baik peran yang kau jalani selama ini. Semoga hari ini, besok, lusa, dan selamanya tetap peran itu selalu kau mainkan.
Rizka, sudah selama itu, sudahkah kamu memikirkan dia yang akan mendampingimu hingga akhir hayat? Aku ingat dulu kamu selalu berkata bahwa lelakimu adalah dia yang mampu membuatmu luluh dengan kata2 dan cara. Masihkah yg seperti itu menjadi kriteriamu?
Dan juga dulu ku ingat, betapa kamu menyukai buku sejarah yang dtulis seperti novel yang bercerita ttg G30SPKI, betapa saat itu kamu bilang padaku bahwa kelak kamu ingin menjadi istri seorang jenderal yang berjiwa chairil anwar. Aku ingat betapa kamu menyukai sastra sebegitunya sampai kamu pun pernah bilang bahwa kamu rela di dua kan, di tiga kan, dan di berapakan pun asalkan setiap hari dia yang kau cinta menuliskan bait untukmu. Betapa konyolnya pemikiranmu Rizka, setengah tertawa saat aku mendengar ocehanmu itu, namun saat ku lihat dalam ke matamu, aku melihat pancaran kesungguhan bahwa itu bukan hanya sekedar maumu tapi benar2 inginmu.
Rizka, sudah selama itu hidupmu, terakhir kali kau bilang padaku bahwa inginmu untuk segera menikah, menikmati hidup bersama suami dan anak2mu kelak. Lalu sekarang bagaimana? Masihkah inginmu seperti itu?
Rizka, kenapa begitu ingin cepat menikah? Padahal yang ku tahu, kamu itu orang yang bgitu ambisius, punya pemikiran sendiri tentang hidup, dimana kamu tidak suka terlalu terikat dengan segala sesuatu. Yang ku tahu, dulu kamu pernah berkata bahwa ikatan itu membuatmu tak bebas melakukan sesuatu. Dimana kamu merasa terikat untuk berbuat sesukamu. Lalu sekarang bagaimana? Masihkah kamu berpikir seperti itu?
Rizka, sudah selama itu, aku rindu ceritamu tentang cinta, tentang kamu yang terlalu mudah suka pada siapa saja namun sulit untuk benar2 jatuh cinta. Aku ingat bahwa kamu pernah berkata, ‘selama aku belum benar2 jatuh cinta, maaf jika aku  membuat orang lain terluka. Tapi ketika kelak aku benar2 jatuh cinta, maka akan kulakukan apa saja meski aku sendiri pun terluka.’ Sebegitunya kamu. Dan terkadang aku pun tak menerti tentang penilaianmu. Sampai saat ini pun mungkin hanya kamu dan Tuhan yang tahu seperti apa sosok dia yang benar2 bisa membuatmu jatuh cinta. Di sini ku doakan, semoga kamu segera menemukan orang yg bisa membuatmu benar2 jatuh cinta.

Rizka, terima kasih telah hidup begitu baik hingga saat ini.  Terimakasih untuk segala hal yang ada karena dirimu, pertemuan itu, perkenalan itu, kebahagian itu, senyum itu, tawa itu, airmata itu, ocehan itu, cerita itu, dan sgala hal tentang ini dan itu. Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.
Terimakasih telah menjadi bagian dalam hidupku.
Tetaplah hidup dengan baik, Rizka.
^^

-mirror-

2 Tanggapan to "Letter"

ini tulisan sendiri ya?

Hhmmm… gimana ya?? Kan letter itu mah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: