Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

Rayya dan Dia

Posted on: Mei 5, 2013


Rayya itu bukan pemaksa, hanya saja Dia yang tak pernah mau mengerti dan memahami apa yang terasa jauh di sini di relung hati. Bukan Rayya yang paksa Dia untuk tak menerima Lara dalam hidup Dia, tapi hanya saran buat Dia bahwa Lara itu bukan yang terbaik. Lalu lagi2 bukannya Rayya itu memaksa untuk menyuruh Dia menolak ketika nama lain muncul, Tiara, Sisi, Wanda, dan beberapa yang menurut Rayya itu tak penting.
Sekali lagi, Rayya itu bukan pemaksa, bukan Rayya yang paksa Dia untuk tak bersama siapapun, hanya saja memang belum ada yang cocok untuk Dia. Kalau benar Rayya memaksa, kenapa Dia tak marahi saja Rayya, bentak saja Rayya, agar berhenti Rayya berkomentar, agar banyak hati yang silih berganti di relung Dia. Tapi kenapa? Kenapa Dia begitu menurut pada Rayya padahal Rayya tak pernah memaksa.
Suatu hari, Rayya pernah mengajak Dia untuk menemaninya ke acara pernikahan teman lama Rayya. Dan tanpa paksaan, Dia mau menemani. Karena belum terbiasa mengenakan wedges, saat melangkah sepulang dari acara pernikahan itu, kaki Rayya terkilir. Dan bukan karena paksaan, Dia memapah Rayya berjalan dengan langkah yang begitu pelan di bawah terik mentari yang begitu panas.
3 bulan yang lalu, Rayya diminta menemani Dia ke toko buku untuk membeli komik. Sementara Dia asik mencari komik favorite nya, Rayya asik melihat2 novel, sampai akhirnya Rayya memilih 4 novel, dan karena duit Rayya tidak cukup untuk membeli ke empat novel tersebut, Rayya harus merelakan satu novel diantaranya. Keesokan harinya, Dia datang menghampiri Rayya di ruang kuliahnya, mengajak Rayya untuk menemaninya makan siang. Di kantin, Rayya masih asik dengan novel barunya, sementara Dia asik dengan semangkok baksonya. Lalu, tiba-tiba Dia teringat sesuatu, teringat akan kaset yang pernah Dia pinjam dari Rayya, Dia meraih ranselnya, mencari kaset dan memberikannya pada Rayya, setelah itu, Dia masih mencari sesuatu di dalam ranselnya, Rayya hanya diam memperhatikan apalagi yang di cari pemuda itu, kemudian Dia mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya, dan ternyata itu adalah novel yang kemarin sempat tak jadi di beli Rayya. Dia bilang, “ini aku pinjamkan untukmu, kalau udah selesai baca, tolong ceritakan ke aku bagaimana ceritanya, dan setelah itu barulah novel ini resmi jadi milikmu.”
Rayya memukul lengan Dia sambil mencibir atas permintaan Dia yang terkadang memang sering aneh begitu. Meski begitu, Rayya masih bisa tersenyum karena Dia yang lagi2 tanpa paksaan membuat Dia begitu, maksudnya bertingkah seperti itu.
Dia ingat, kapan pertama kali bertemu dengan Rayya. Kala itu senja, hujan begitu lebat di luar sana. Rayya masih terkurung berdiam diri di halte depan kampus. Tak lama, Dia muncul persis di depan Rayya berdiri, sepertinya Dia hendak menyeberang jalan. Entah karena hujan yang begitu lebat dan sedikit berkabut, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Dia yang saat itu hendak melangkahkan kaki menyeberang jalan, Rayya meraih lengan Dia, menarik Dia ke belakang agar mundur, dan tiba-tiba Rayya sendiri jatuh ke belakang. Kotor seluruh celana Rayya. Dia mengulurkan tangannya mencoba membantu Rayya untuk berdiri. Menanyakan pada Rayya apakah ada yang sakit. Ah, pertanyaan bodoh macam apa itu, tentu saja sakit jika harus terhempas ke belakang begitu tiba2 seperti itu.
Karena sudah terlanjur kotor kena becek sperti itu, akhirnya Rayya memutuskan pulang untuk jalan kaki karena sangat tidak mungkin untuk Rayya jika harus naik angkutan umum dalam keadaan seperti itu. Rayya membuka payungnya, mulai berjalan melangkah menjauhi halte itu. Tak lama, Dia berlari menyusul Rayya sehingga membuat Rayya terkaget melihat cowok itu sudah berdiri di sampingnya, berdua di bawah payung yang saat ini di pegangnya sambil membungkukkan badan, karena memang postur Dia lebih tinggi dari Rayya.
Rayya ingat Dia bilang, “Pasti malu jika harus berjalan sendiri dalam keadaan kotor begitu, hanya sekedar mau menemani sampai kamu depan pintu rumah.”
Itulah kali pertama mereka berkenalan, berbincang, dan berbicara tentang banyak hal. Jarak 3km terasa begitu dekat kala itu. Dan tanpa mereka disadari, senja berlalu begitu cepat.
****
To be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: