Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

Ocehan

Posted on: Mei 10, 2013


Aku sibuk memikirkan keburukan yg tertuju padaku hingga aku lupa bahwa aku pernah tersenyum atas segala kebaikan itu
Lalu kamu mengingatkanku, untuk tak hanya sekedar mengingat sisi negatifmu, bukannya ria, tapi ya begitulah cara utk membuat aku tak membencimu. Bukan begitu?
Kamu pikir aku benci kamu?
Tidak. Mana pernah aku benci orang, mungkin saja aku sedikit kesal, atau mungkin aku jenuh.
Ya.. ini fase terjenuh yg pernah ku alami seumur hidupku, selama bertahun-tahun aku terbelenggu, bukan belenggu, maksudku… ya begitulah…
Jadi sekarang kamu membenciku?
Tidak. Aku pun tak yakin kau tega membenciku? Bukankah aku pernah singgah di sana.. atau mungkin memang aku pernah singgah.
Ahh.. sekelumit asa yang begitu sukar untuk dijelaskan. Aku pun bingung, sebab sekarang perlahan jemariNya sudah mulai menyentuhku sedikit demi sedikit setelah sekian lama.
Aku ingin bersyukur, tapi masih saja setan bermain di sekitar hingga aku jadi kufur.
Andai saja bukan karena semua cerita itu, mungkin logikaku tak sebaik hari ini, mungkin saja aku masih terjerambab jatuh, ke pelosok, masuk k dalam jurang. Ahh.. bodohnya aku untuk tak memanjat tebing itu lagi.
Ku pikir ocehan itu bisa di abaikan.. tapi lama2 telingaku pekak juga dibuatnya, dan ku pikir hati ini akan dongkol, ahh justru bukan hati sekarang yg bekerja, tapi otak. Aku pun bingung, sejak kapan otakku terlibat dalam masalah seperti ini?
Lalu, haruskah aku lupa untuk semua itu?
Tak mungkin. Mana mungkin aku bisa lupa. Yang ada sekarang aku hanya pura2 lupa dan tak peduli. Lalu pertanyaannya, sampai kapan begitu? Aku pun tak tahu jawabnya.
Besok, saat aku bangun pagi hari, bolehkah kuminta padaNya sesuatu? Sesuatu hal yang telah lama ku inginkan.
Aahh… andai Dia menjabah doaku.
Bukan. Bukan Dia yang tak mendengar doaku. Ah bodohnya aku, kenapa baru sekarang aku bisa berpikir bahwa bukan Dia yang tak menjabah doaku, hanya saja aku yang lari menghindar ketika doa itu perlahan mulai terwujud hingga akhirnya redup sendiri. Lalu sekarang? Apa yg harus ku lakukan? Haruskah aku berhenti berharap? Meminta doa yang baru? Atau aku tetap berdiri diam pada posisiku?
Lalu, apa terlambat bagiku untuk menyesal?
Dan tak ada satupun yang bisa menjawab tanyaku.
-selamat pagi-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dunia Sukab

Seno Gumira Ajidarma's works: Short stories, Novels, Plays, Poems, News and other Articles.

Being Mellow and Over-Romantic itu Bukan Kutukan.

demi Dzat yang jiwaku berada di genggamanNYA

AJIS PENA HITAM

Ada jawaban disetiap do'a "INSYA ALLAH"

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Just an ordinary blog site

Just another WordPress.com site

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Ismi Dina

Words of Mind and Heart

Sandurezu d'Syandrez

Just the words of my spirit and knowledge.

Mayya Mumtaz Maharani

Mayya's Personal Blog

fadhilaaini

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: